Ibr 10:32-39 Sukacita sebagai lambang iman

Perikop ini merupakan transisi antara penguatan oleh janji-janji Allah (10:19-25) serta peringatan tentang murka Allah (10:26-31) dan penceritaan saksi-saksi iman (p.11). Hubungan antara bagian sebelumnya dan sesudahnya menjadi jelas dalam nas yang dikutip dalam aa.37-38, yaitu bahwa janji itu berlaku untuk mereka yang hidup oleh iman, tetapi murka itu akan berlaku untuk mereka yang mengundurkan diri, yaitu, mereka akan binasa (a.39).

Untuk menguatkan mereka, penulis menyuruh mereka untuk mengingat masa lampau, waktu mereka menderita dan bersolidaritas dengan saudara-saudara yang menderita (aa.32-34). Maksudnya bukan bahwa pada saat itu mereka hebat dan layak diselamatkan, melainkan bahwa sikap mereka melambangkan iman mereka. Solidaritas mereka membuktikan bahwa mereka tidak malu terhadap saudara-saudara yang dipermalukan masyarakat atau pemerintah. Mereka lebih takut jika Allah tidak berkenan kepada mereka daripada jika manusia tidak berkenan kepada mereka. Kemudian, mereka menerima perampasan harta dengan sukacita. Sukacitanya bukan atas hal dirampas. Sebaliknya, penindasan layak didukai di mana saja terjadi. Tetapi di tengah perampasan mereka dapat bersukacita karena percaya bahwa Allah akan menggenapi janji-janji-Nya.

Oleh karena itu, mereka dikuatkan untuk melanjutkan iman itu. “Jangan melepaskan kepercayaan” (a.35), “kamu memerlukan ketekunan” (a.36), setiap kali dengan pengulangan janji (“besar upah”, “memperoleh apa yang dijanjikan itu”). Kutipan nas tadi membuktikan penguatan itu, dan akhirnya penulis menunjukkan keyakinannya bahwa mereka termasuk yang akan selamat.

Solidaritas dan sikap tidak memberhalakan harta benda adalah dua hal yang baik secara umum. Tetapi kedua hal itu memiliki makna khusus sebagai lambang iman dan harapan yang kuat. Sebaliknya, janji-janji Allah baru bermakna secara pribadi ketika diimani sehingga mempengaruhi sikap-sikap kita di tengah pergumulan. Mana yang mendasar? Jika sikap dan tingkah laku yang mendasar, maka janji-janji Allah dalam Kristus hanya salah satu cara untuk menopang sikap dan tingkah laku itu. Tetapi kesimpulan itu bukan kesimpulan perikop ini. Selain janji ada juga murka, selain hidup ada juga binasa, selain upah, ada juga “Aku tidak berkenan”. Penguatan dalam a.39 bukan karena tidak ada bahaya, tetapi karena kita percaya kepada Allah yang janji-Nya layak dipercayai.

Pos ini dipublikasikan di Ibrani dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ibr 10:32-39 Sukacita sebagai lambang iman

  1. Pong Dodo' berkata:

    salam kasih Tuhan Yesus…..
    memang sangat penting untuk selalu mengingat masa lalu dalam rangka mesa depan yang lebih baik…
    mengingat masa2 sulit di mana bisa bergantung sepenuhnya kepada Tuhan…

    ketika mata kita sdh bisa melihat begitu luas dunia ini yang menjanjikan dan menawarkan juga begitu banyak kemungkinan dan kemudahan, sangat penting untuk mengingat kasih Tuhan ketika masa2 sulit dalam hidup…

    pergumulan gereja dan orang2 yg percaya selalu ada.. dan tiap zaman punya tantangan sendiri2…
    mungkin orang2 sekarang mengatakan begitu sulitnya hidup bertekun dan bergantung pada Tuhan… saya yakin polka pikir itu tidak hanya muncul sekarang tetapi sepanjang sejarah umat Allah…
    karena itu, pasal 11 Ibrani mau memperlihatkan saksi-saksi iman setiap zamannya….

    SELAMAT BERTEKUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s